Tuesday, November 7, 2017

HASIL LAB MAMAH YANG MENGUBAH ARAH HIDUP SAYA

Kemarinan sedang  ramai dibukanya pendaftaran untuk CPNS membuat saya dan suami membuka kembali pembicaraan mengenai hal tersebut. Suami saya tidak pernah melarang saya untuk mendaftar cpns atau bekerja di sebuah perusahaan, hanya saja beliau selalu menganjurkan saya untuk membuka usaha dengan harapan dapat sambil mejaga si anak lucu dan membuka lowongan pekerjaan untuk orang lain, meskipun membuat sebuah usaha tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Mengenyam bangku kuliah adalah hal yang sitimewa untuk saya. Mama saya terutama adalah orang yang sangat gigih ingin agar saya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Dia tidak pernah menuntut saya untuk menjadi seorang dosen, dokter atau astronot. Yang diharapkannya adalah bahwa pendidikan dapat mengantarkan saya pada kehidupan yang lebih indah.

Dari dulu ingin rasanya membalas sedikit saja jasa yang telah diberikan mama mungkin menjadi pns adalah salah satunya mengingat beliaupun adalah seorang pns, sampai pada beberapa bulan lalu saya membaca hasil pemeriksaan lab pasca operasi mama yang mengubah arah hidup saya “Invasive Pleomorphic Lobular Carcinoma Grade III”  pernyataan dari secarik kertas ini seolah mencabik cabik hati saya, kanker adalah penyakit yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya kini malah menyerang orang terkasih saya. mama relatif lebih positif menghadapinya, malah mama yang menguatkan saya. Juli 2017 diisi dengan tangisan disetiap malamnya sampai akhirnya tangisan menjadi hal yang membosankan.

Kemudian beberapa hari yang lalu saya mengantar mama untuk melakukan Echocardiography untuk mengecek fungsi dan anatomi jantung yang hasilnya akan digunakan untuk kepentingan kemo. Di ruang tunggu tempat echo ini saya bertemu dengan 7 ibu-ibu berusia lanjut yang sedang menunggu giliran untuk dilakukan pengecekan jantung, Sudah jiwa ibu-ibu memang kalau saling bertemu mereka akan memulai ritual bernama “ngobrol”

Ibu a : ibu sakit apa?
Ibu b : saya sakit kanker, kalau ibu?
Ibu c : ooh gitu kalau sayamah beda bu tumor, tapi ganas (atulah bu tumor ganas teh kanker)
Ibu a, d, e, f, g, h : saya juga sama, sama ibu b, kanker
Ibu b : sudah dioperasi bu?
Ibu a :  sudah, sudah diambil semua bagian
Ibu, e: saya malah sudah di kemo, tapi harus kemo lagi soalnya sudah nyebar ke bagian lain
Ibu g : gimana bu di kemo teh?
Ibu e : aduh sayamah langsung g nafsu makan, rambut dan alis mata saya jadi botak, kulit saya langsung menghitam, sok atuh sekarangmah makan yang banyak bu mumpung masih pada nafsu, soal alis yang hilangmah gampang pan nuju jaman yah alis palsu (dan semua ibu-ibu pada ketawa)
Entah kenapa ngobrol bersama ibu-ibu ini membuat penyakit kanker terkesan easy  tapi juga menyeramkan buat didengar.

Semua ibu-ibu disini mereka datang dari tempat yang berbeda-beda dan sangat jauh, ada yang dari Sukabumi, Sumedang, Garut dll. Ada beberapa yang menginap di rumah singgah yang ada di sekitar rumah sakit yang diperkhususkan untuk pasien yang tinggalnya jauh dari rumah sakit. Sedihnya mereka tidak ada keluarga yang mengantar, kecuali ibu saya dan satu nenek yang berusia sekitar 70 tahun  yang diantar oleh cucunya yang hanya berusia 12 tahun dan tentunya sang cucu belum mengerti prosedural Rumah Sakit dengan benar. Saat saya tanya kenapa anak-anak mereka tidak mengantar pemeriksaan, mereka hanya menjawab pasrah  “aah lagi sibuk kerja neng”  “ah lagi ngejar dunia neng” “aah mungkin udah lupa kalau punya ibu”  pernyataan pernyataan skeptis para orang tua ini meyakinkan pilihan saya untuk tidak terikat pada sebuah perusahaan atau instansi manapun. Saya ingin punya waktu untuk mengantar mama kapanpun sesuka hati saya, ingin menemani masa emas anak, masa sehat mama dan masa jaya suami. sehingga tawaran untuk belajar mengelola sebuah usaha dari sang suami akan saya sambut dengan tangan terbuka. Semoga saya bisa sukses dengan jalan yang lain, dan untuk temen-temen saya yang mendaftar pns atau instantsi lain semangaat ya, semoga kalian lolos dan mendapatkan apa yang diharapkan, semoga orang tuanya juga sehat selalu. jangan terganggu dengan tulisan amatir saya, ini Cuma curhatan dari seorang anak yang ibunya sangat membutuhkannya (padahal kalau saya ikutan cpns juga blm tentu lulus ya)


Saya bersyukur memiliki waktu yang luang (sebenernya harus beresin tesis sih) memiliki suami yang super baik yang mempermudah mobilitas saya, sehingga tiga bulan terakhir ini saya dapat fokus ke pengobatan mama, saya senang bisa jagain mama di rumah sakit tiap hari, saya bahagia bisa mengantar setiap kali mama berobat, periksa lab dan mejalani semua rangkaian pengobatan yang penuh dengan prosedur  itu. Saya tidak  menyesal mama sakit kanker tapi saya pasti akan menyesal  kalau saat mama sakit saya tidak ada untuk menemaninya.  

No comments:

Post a Comment