Kemarinan sedang ramai dibukanya pendaftaran untuk CPNS membuat
saya dan suami membuka kembali pembicaraan mengenai hal tersebut. Suami saya
tidak pernah melarang saya untuk mendaftar cpns atau bekerja di sebuah
perusahaan, hanya saja beliau selalu menganjurkan saya untuk membuka usaha
dengan harapan dapat sambil mejaga si anak lucu dan membuka lowongan pekerjaan
untuk orang lain, meskipun membuat sebuah usaha tidak semudah membalikkan
telapak tangan.
Mengenyam bangku kuliah adalah hal yang sitimewa
untuk saya. Mama saya terutama adalah orang yang sangat gigih ingin agar saya
mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Dia tidak pernah menuntut saya untuk
menjadi seorang dosen, dokter atau astronot. Yang diharapkannya adalah bahwa
pendidikan dapat mengantarkan saya pada kehidupan yang lebih indah.
Dari dulu ingin rasanya membalas sedikit saja jasa
yang telah diberikan mama mungkin menjadi pns adalah salah satunya mengingat
beliaupun adalah seorang pns, sampai pada beberapa bulan lalu saya membaca
hasil pemeriksaan lab pasca operasi mama yang mengubah arah hidup saya “Invasive Pleomorphic Lobular Carcinoma
Grade III” pernyataan dari secarik
kertas ini seolah mencabik cabik hati saya, kanker adalah penyakit yang bahkan
tidak pernah saya bayangkan sebelumnya kini malah menyerang orang terkasih
saya. mama relatif lebih positif menghadapinya, malah mama yang menguatkan saya.
Juli 2017 diisi dengan tangisan disetiap malamnya sampai akhirnya tangisan
menjadi hal yang membosankan.
Kemudian beberapa hari yang lalu saya mengantar mama
untuk melakukan Echocardiography untuk mengecek fungsi dan anatomi jantung yang
hasilnya akan digunakan untuk kepentingan kemo. Di ruang tunggu tempat echo ini
saya bertemu dengan 7 ibu-ibu berusia lanjut yang sedang menunggu giliran untuk
dilakukan pengecekan jantung, Sudah jiwa ibu-ibu memang kalau saling bertemu
mereka akan memulai ritual bernama “ngobrol”
Ibu a : ibu sakit apa?
Ibu b : saya sakit kanker, kalau ibu?
Ibu c : ooh gitu kalau sayamah beda bu tumor, tapi
ganas (atulah bu tumor ganas teh kanker)
Ibu a, d, e, f, g, h : saya juga sama, sama ibu b,
kanker
Ibu b : sudah dioperasi bu?
Ibu a : sudah,
sudah diambil semua bagian
Ibu, e: saya malah sudah di kemo, tapi harus kemo
lagi soalnya sudah nyebar ke bagian lain
Ibu g : gimana bu di kemo teh?
Ibu e : aduh sayamah langsung g nafsu makan, rambut
dan alis mata saya jadi botak, kulit saya langsung menghitam, sok atuh
sekarangmah makan yang banyak bu mumpung masih pada nafsu, soal alis yang
hilangmah gampang pan nuju jaman yah alis palsu (dan semua ibu-ibu pada ketawa)
Entah kenapa ngobrol bersama ibu-ibu ini membuat penyakit
kanker terkesan easy tapi juga
menyeramkan buat didengar.
Semua ibu-ibu disini mereka datang dari tempat yang
berbeda-beda dan sangat jauh, ada yang dari Sukabumi, Sumedang, Garut dll. Ada
beberapa yang menginap di rumah singgah yang ada di sekitar rumah sakit yang
diperkhususkan untuk pasien yang tinggalnya jauh dari rumah sakit. Sedihnya mereka
tidak ada keluarga yang mengantar, kecuali ibu saya dan satu nenek yang berusia
sekitar 70 tahun yang diantar oleh
cucunya yang hanya berusia 12 tahun dan tentunya sang cucu belum mengerti
prosedural Rumah Sakit dengan benar. Saat saya tanya kenapa anak-anak mereka
tidak mengantar pemeriksaan, mereka hanya menjawab pasrah “aah lagi sibuk kerja neng” “ah lagi ngejar dunia neng” “aah mungkin udah
lupa kalau punya ibu” pernyataan
pernyataan skeptis para orang tua ini meyakinkan pilihan saya untuk tidak terikat
pada sebuah perusahaan atau instansi manapun. Saya ingin punya waktu untuk
mengantar mama kapanpun sesuka hati saya, ingin menemani masa emas anak, masa
sehat mama dan masa jaya suami. sehingga tawaran untuk belajar mengelola sebuah
usaha dari sang suami akan saya sambut dengan tangan terbuka. Semoga saya bisa
sukses dengan jalan yang lain, dan untuk temen-temen saya yang mendaftar pns atau
instantsi lain semangaat ya, semoga kalian lolos dan mendapatkan apa yang
diharapkan, semoga orang tuanya juga sehat selalu. jangan terganggu dengan
tulisan amatir saya, ini Cuma curhatan dari seorang anak yang ibunya sangat
membutuhkannya (padahal kalau saya ikutan cpns juga blm tentu lulus ya)
Saya bersyukur memiliki waktu yang luang (sebenernya
harus beresin tesis sih) memiliki suami yang super baik yang mempermudah
mobilitas saya, sehingga tiga bulan terakhir ini saya dapat fokus ke pengobatan
mama, saya senang bisa jagain mama di rumah sakit tiap hari, saya bahagia bisa
mengantar setiap kali mama berobat, periksa lab dan mejalani semua rangkaian
pengobatan yang penuh dengan prosedur
itu. Saya tidak menyesal mama
sakit kanker tapi saya pasti akan menyesal kalau saat mama sakit saya tidak ada untuk
menemaninya.
No comments:
Post a Comment