Karena setiap
hari ketemu dan berkomunikasi secara rutin, antara suami dan istri tentunya
akan saling mempengaruhi satu sama lainnya, sama halnya yang terjadi kepada
saya dan suami. Hampir setiap malam setelah
anak tertidur saya dan suami selalu “curhat ngaler ngidul” sampai rasa kantuk
menghampiri satu sama lain. segala hal kami bicarakan bersama, baik dari hal
yang sangat amat penting hingga ke hal yang remeh temeh, baik tentang isu yang
sekarang lagi panas sampai apa saja yang saya lakukan hari ini bareng si lucu. biasanya suami selalu mengawali dengan
pertanyaan “hari ini ada kejadian apa aja cinta?” pertanyaan itu udah kaya
simbol aja buat kami untuk memulai diskusi ala suami istri. Tiba-tiba waktu menjadi
milik berdua halaaah..
Banyak hal
yang saya pelajari dari curhat ngaler ngidul kami, saya ingat dulu pernah bercerita
mengenai pengalaman saya yang berbelanja di pasar tradisional yang menurut saya
berasa lebih mahuull daripada berbelanja di pasar modern yang berefek pada
berkurangnya jumlah uang yang bisa saya tabung buat beli daster baru #eh. setelah
bercerita suami saya berkata bahwa hal itu bukan masalah. Toh perbedaannya
tidaklah banyak yang penting uang yang kita beri bisa merata ke orang-orang di
pasar yang notabene memiliki modal yang lebih kecil daripada pemilik
supermarket yang besar, suami juga selalu menyuruh untuk membeli sayuran di
tempat yang berbeda di pasar tujuannya biar rezeki kita ngalir dan terbagi rata
ke mereka semua, dan yang paling penting “jangan suka nawar!” saya pun menjawab “duhh a keahlian nawar aku mau
dikemanain?” (yang padahal saya paling gak jago nawar barang). Niatkan segala
sesuatu itu untuk ibadah, jadi kehilangan yang kita alami semoga menjadi penghapus dosa kita, apalagi kalau bisa belanja sambil ibadah, belanjaan
dapet pahala juga dapet, jadi walaupun uang yang keluar sedikit lebih besar
tapi banyak keluarga yang jadi terbantu dengan kelebihan yang hanya sedikit
itu. Oke, tiba-tiba hati yang tadinya merasa rugi gara-gara keluar uang lebih
banyak jadi lebih plong hanya dengan kalimat yang lebih positif malah merasa dapet
sesuatu yang lebih (yang saya percayai sebagai pahala) J Tapi meskipun begitu kami juga sering
berbelanja di supermarket ko karena gak semua yang kami butuhkan ada di pasar
tradisional xoxoxo..
Pernah juga
suatu ketika kami sedang jalan-jalan (masih di kota bandung) karena hujan turun
dan sudah malam sementara kita berangkat dengan menggunakan motor (maklum
mobilnya belum sempet beli hihi) akhirnya suami memutuskan untuk memesan taxi. Saya
pun mengajukan taxi online yang tarifnya sangat bersahabat bagi ibu-ibu hemat
macam saya, tapi lagi-lagi sang suami “mendoktrin” saya. “kita pakai taxi biasa
aja kalo bisa yang merknya jarang dinaikin orang, kasian mereka jarang dapet penumpang, kalau
taxi online dan taxi yang merk nya lebih terkenal kan penumpangnya udah banyak”
. dengan alasan yang lagi-lagi lebih mahal dan takut tiba2 nyampe rumah dikasih
tarif yang aduhai atau malah takut nanti diculik (maklum saya dan anak lucu
banget soalnya) saya pun agak merayu suami untuk pakai taxi yang ada tulisan “GR”
nya atau kalau enggak yang ada gambar burung birunya gitu xixixi.. dan dengan muka
gantengnya yang sulit saya lupakan suamipun berkata “boleh kalau kita lagi gak
ada uang, tapi kebetulan hari ini kita sedang ada rezeki jadi harus berbagi
rezeki sama sesama, siapa tau dirumahnya lagi ada anaknya nunggu biaya buat
sekolah kan? gimana setuju gak sama ide aku?” sambil alis matanya naik turun
“waah kalau udah ngomong gitu. ok
honey you win...”
Dan banyak doktrin-doktrin suami
lainnya yang membuat saya makin hari makin... aah sudahlah (ini ngetiknya sambil pipinya merah merona). Semoga tulisan ini bisa
bermanfaat bagi yang membacanya, suami saya hanya manusia biasa yang juga punya
kekurangan seperti suami lainnya. semoga suami saya juga bisa mendoktrin anak saya secara positif
nantinya, ah Seismikaa can’t wait to see you grow up :*













